REMAJA DAN PERMASALAHAN DALAM MASYRAKAT
Oleh :Heri Budiyanto
SMK N 1 Jeunieb Bireuen-NAD
A. Latar Belakang
Remaja adalah suatu tahap perkembangan pada individu (manusia), dimana ia mengalami perkembangan biologis dan psikologis. Ia juga merupakan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa. Dapat dikatakan juga, bahwa remaja adalah masa transisi dari periode anak ke dewasa.
Untuk memudahkan identifikasi, biasanya masa remaja, dibatasi usia tertentu. WHO membagi 2 tahap usia remaja :
- Remaja awal : 10-14 tahun
- Remaja akhir : 15-20 tahun
Ciri-ciri Remaja
Dalam definisi sudah jelas disebutkan bahwa masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Dan yang namanya perubahan pastinya memiliki ciri-ciri atau sesuatu hal yang bisa dilihat secara fisikis ataupun secara tingkah laku. Diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
- 1. Ciri Biologis
Ciri biologis adalah sebuah ciri yang sangat gampang untuk dikenali, karena secara visual ciri ini sangat jelas dan mudah untuk dilihat.
Pada remaja perempuan secara biologis mereka akan mengalami menstruasi, tumbuhnya bulu pada sekitar daerah kelamin, tumbuhnya buah dada, dan bentuk pinggul yang mulai membesar. Dengan sudah terjadinya menstruasi pada remaja perempuan, berarti system reproduksinya sudah aktif, sehingga pada masa ini remaja perempuan sudah dapat mengalami kehamilan jika sel telurnya bertemu dengan sperma
Remaja laki-laki juga memiliki beberapa tanda yang bisa dilihat secara visual untuk menandakan bahwa dia sudah meninggalkan masa anak-anak menjadi masa remaja. Diantara ciri tersebut adalah pertumbuhan badan yang sangat cepat, mulai tumbuhnya jakun (tonjolan pada leher), suara yang mulai membesar, tumbunya otot-otot tubuh, tumbuhnya bulu-bulu pada sekitar daerah kelamin dan yang paling utama
adalah ditandai dengan dialaminya proses mimpi basah untuk pertama kali (keluarnya sperma saat tidur). Pada laki-laki jika sudah mengalami keluarnya sperma ini berarti dia dikatakan sudah dapat membuahi sel telur pada perempuan, sehingga seorang remaja laki-laki sudah dapat membuat seorang perempuan menjadi hamil
- 2. Ciri Psikologis
Ciri psikologis adalah suatu tanda yang juga bisa digunakan sebagai pertanda bahwa seorang anak-anak sudah memasuki masa remaja. Ciri psikologis ini berkisar antara perubahan cara berfikir dan perasaan hati, meskipun perubahan ini sangat labil karena belum ada kematangan/pengalaman yang bisa dijadikan pegangan, tetapi perubahan psikologis ini akan sangat mempengaruhi sikap/tingkah laku seorang remaja.
- B. Perilaku pada Remaja yang Mengarah kepada Permasalahan
Remaja sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tingkah laku yang sangat kompleks memang sangat menarik untuk dipelajari. Karena pada masa ini bisa dikatakan adalah cerminan dari sikapnya dimasa yang akan datang (waktu dewasa), jadi jika baik seseorang pada waktu remaja, bisa dikatakan kemungkinan besar dia akan baik pada waktu dewasa/tuanya
Saat seorang remaja mencari identitas baru, identitas yang berbeda dari yang mereka miliki sebelumnya, banyak remaja kita yang terjebak dalam arus coba-coba. beberapa remaja putri mencoba berbagai dandanan, make up dan aksesoris yang menyeret mereka pada perilaku konsumtif dan kecenderungan foya-foya/boros, sementara yang putra mulai membolos sekolah dan merokok. Beberapa mencandu narkoba dan bergaul terlalu bebas.
Jika pertanyaan-pertanyaan seputar identitas diri tidak bisa dijawab dengan baik dan terus berlarut-larut menggelayuti pikiran mereka, ia akan semakin membingungkan dan tak peduli dengan apa pun yang ada di sekitarnya. Banyak yang gagal dalam menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang penting dan mendasar tadi. Kegagalan dalam definisi diri membuat remaja mengalami ’kebingungan peran’ (role confusion) saat mencari model peran yang akan diikuti.
Model peran orang tua yang sebelumnya mereka idealkan semasa kecil kini mulai ingin mereka jauhi, terutama jika orang tua bermasalah. Remaja mulai melirik model-model peran dan identitas yang ada di luar keluarganya. Namun, mereka seringkali mengalami kebingungan karena ada begitu banyak pilihan peran dan nilai-nilai yang saling bertentangan satu sama lain, sementara mereka tidak memperoleh bimbingan yang mantap bagaimana seharusnya menentukan pilihan yang terbaik bagi diri mereka sendiri.
Semua itu membawa remaja kepada kondisi yang sangat labil, rentan, dan mudah
terpengaruh oleh lingkungannya. Pada gilirannya, tidak sedikit remaja yang akhirnya terjerumus dalam berbagai persoalan serius yang lebih berat dilingkungannya. Di antara ancaman dan permasalahan tersebut adalah:
- 1. Problem psikologis seperti rasa minder
Problem seperti ini kalau dilihat sekilas, akan tampak sepele, karena tidak berhubungan langsung ataupun merugikan langsung terhadap orang lain. Tetapi kenyataanya masalah ini juga masalah besar bagi remaja yang harus dihindari. Rasa minder biasanya disebabkan ketidakmampuan seorang remaja untuk bergabung/bersosialisasi dengan teman-temannya (lingkungan/sekolah), sehingga dia akan cenderung untuk mengurung diri yang mengakibatkan terhalangnya dia untuk maju dan punya kreasi (terputusnya cita-cita).
Pada jangka waktu tertentu dia baru sadar bahwa dia telah kehilangan kesempatan untuk belajar dan berkembang serta bersosialisasi dengan teman-temanya. biasanya dia akan menilai bahwa hanya keberanianlah yang bisa membuatnya diterima oleh teman-temannya. Pada saat inilah perubahan yang sangat besar akan terjadi, dia selalu memahami bahwa semuanya harus dilakukan dengan keberanian. Dan akhirnya bukan keberanian yang sesungguhnya yang akan dia lakukan, tetapi suatu keberutalan dan kebengisan. Dia akan menjadi seorang remaja yang jahat baik dilingkungan sekolah ataupun dilingkungan rumahnya, demi untuk menunjukkan kepada teman-temanya bahwa dia bukan seorang penakut, sehingga pada kondisi ini dia akan memilih untuk membentuk kelompok-kelompok (geng) yang bisa saja geng mereka justru akan meresahkan lingkungannya karena latar belakang tebentukannya yang sudah menyimpang.
- 2. Ancaman NARKOBA
Semakin mudahnya barang-barang berbahaya ini didapat, semakin banyak kecenderungan remaja kita yang akan menjadi pecandu NARKOBA. Sebenarnya kalau kita amati bukan cuma karna NARKOBA ini mudah didapat, tetapi karena sifat alamiah seorang remaja yang selalu ingin mencoba hal baru lah yang juga menjadi pemicu seorang remaja akan terkena NARKOBA, dimulai dari coba-coba dan ingin tahu. Saat seorang remaja sudah terkena barang-barang berbahaya ini, sudah pasti dia harus selalu berusaha untuk mendapatkan NARKOBA yang biasa mereka gunakan. Dan dikarenakan seorang remaja belum memiliki penghasilan keuangan yang pasti, mereka akan mulai menggunakan uang sekolah mereka untuk membeli barang haram ini, jika uang sekolah sudah tidak mencukupi lagi dia akan cenderung mempunyai sifat baru, yakni sering membohongi orang tuanya agar dikasih uang tambahan. Dan jika tingkat kecanduannya sudah mulai parah, dia akan terjerumus kedunia kriminal, yakni dia mencoba menjadi penjual/pengedar NARKOBA itu sendiri. Bahkan seorang yang sudah kecanduan akan cenderung memberanikan diri untuk mencuri demi bisa memenuhi dahaga akan NARKOBA.
- 3. Ancaman Pergaulan Bebas
Hubungan dengan lawan jenis adalah isu yang paling sensitif pada remaja dan seringkali menjadikan keresahan orang tua. Mengapa ini menjadi isu penting pada remaja karena pada usia tersebut hormon yang berkaitan dengan perilaku seksual sedang mengalami pematangan. Akibatnya secara seksual mereka mulai aktif, biasanya ditandai dengan ketertarikan pada lawan jenis dan dilanjutkan pacaran. Pada saat ini tepat kiranya untuk membicarakan tentang isu seksual pada mereka. Dalam kondisi seperti ini banyak sekali perubahan secara emosional akan terjadi. Seiring perubahan yang tidak stabil ini berisiko sekali berujung pada tindakan yang ceroboh. Penting kiranya untuk ikut memahami emosi mereka, dengan begitu mereka tahu kemana mencari bantuan saat dibutuhkan. Tidak bijak rasanya jika orang tua hanya menyalahkan mereka ketika mulai pacaran, karena ini adalah sesuatu yang manusiawi. Akan sangat menolong jika kita ikut membantu mereka merumuskan hal penting yang harus mereka perhatikan. Jika memungkinkan
bicarakan tentang aktifitas seksual mulai yang sederhana hingga yang berisiko kehamilan. Kita tetap dapat membicarakan isu sensitif ini secara menyenangkan, dan hindari pikiran jika mereka masih terlalu kecil untuk hal itu sehingga mereka tidak mungkin melakukannya. Misalnya gunakan saja majalah remaja yang mengupas isu seksual, atau mungkin pengalaman orang tuanya dulu. Penting tanamkan pengertian bahwa seksualitas tidak hanya sebatas hubungan intim saja tetapi masih banyak ekspresi yang dapat mengungkapkan keintiman. Mereka juga perlu tahu aktifitas apa saja yang berisiko kehamilan, misalnya kondisi mabuk dan kontrol diri rendah dapat berisiko pada perkosaan. Jika perlu bantuan pihak lain janganlah segan untuk membicarakannya agar kondisi tetap terkontrol.
Jika hal ini gagal dijelaskan oleh orang tuanya, kecenderungan untuk berbuat yang mengarah ke pergaulan bebas akan semakin besar. dan secara individu dia akan menerima akibatnya. Akibat pergaulan bebas bagi perempuan akan membuat dia hilang control, sehingga dia akan sulit diterima oleh masyarakat sekitar karena dianggap orang tidak berakhlak. Sedangkan bagi laki-laki akan berakibat hilangnya rasa tanggung jawab seorang laki-laki karena tiap saat harus berganti pasangan, dan kecenderungan dia mengarah kekriminal juga akan semakin besar, misalnya perkosaan.
- C. Pemecahan Masalah
Agar permasalahan-permasalahan seoarang remaja tidak mengarah ke hal-hal yang negative, sedini mungkin permasalahan ini harus dicarikan solusinya. Sekarang yang jadi pertanyaan siapakah yang harus mencegah dan menyelesaikan masalah ini? Tentunya jawabanya adalah kita semua termasuk yang bersangkutan juga harus memiliki iktikad yang baik untuk selalu berusaha menjauhi hal-hal yang demikian.
Adapun beberapa langkah yang bisa diambil adalah
- Bantulah remaja untuk mengerti perubahan-perubahan yang dialaminya. Hormon-hormon baru yang mereka miliki menghasilkan dorongan-dorongan fisik yang harus mereka kelola. Para orang tua dapat membantu mereka untuk menumbuhkan kendali diri (self control) yang Islami. Ajarkan bahwa wudhu dapat menurunkan kemarahan dan meredam emosi, shalat bisa mencegah mereka
dari perbuatan keji, dan puasa dapat mematangkan emosi dan menumbuhkan kemandirian mereka. Tumbuhkan Izzah (kebanggaan) mereka sebagai muslim. Dorong mereka untuk menjaga kesehatan, mengapai prestasi, sehingga mereka mampu menjadi qudwah di lingkungannya
- Mengawasi pola pergaulan remaja di luar rumah
Sebagai orang tua tidak perlu mengekang si anak untuk selalu berada dirumah, silahkan siremaja bergaul dilingkungannya supaya dia bisa berkembang, Karena pergaulan bisa membentuk karakter seseorang. Tetapi tetap ingat semuanya harus dikontrol bukan hanya oleh orang tua si remaja, tetapi juga warga masyarakat juga berupaya ikut membantu supaya masalah ini tidak menyebar luas dilingkungan sekitar.
- Membimbing sianak terhadap pengaruh media
Sebagai orang tua harus sesering mungkin untuk membimbing mereka saat menonton TV ataupun saat mereka berada di Internet. Karena kedua media inilah yang juga sangat mempengaruhi pembentukan sikap dan karakter para remaja
- Peran Lembaga Pendidikan
Yang dimaksud lembaga pendidikan disini bukan hanya Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, akan tetapi lembaga pendidikan non formal yang banyak terdapat dilingkungan rumah, misalkan tempat pengajian dsb.
Kenapa lembaga ini memiliki peran dalam mencegah kenakalan remaja? Karena lembaga ini lebih leluasa dalam memberikan sanksi jika ada pelanggaran oleh para siswa didiknya, berbeda jika dia dirumah, karena alasan pertalian darah antara si anak dan orang tua, kecenderungan untuk memanjakan anak dan juga alasan tidak tega juga sangat mungkin, sehingga kalau dirumah si anak bisa berbuat sesuka hatinya. Disamping itu disekolah mereka bertemu dengan banyak teman sebaya dia, yang memiliki karakter yang juga beraneka ragam. Untuk itu pendidikan akhlak dan karir harus lebih ditekankan lagi oleh lembaga – lembaga pendidikan kepada peserta didiknya.